Sabtu, 30 Juli 2016

Konsep pertunjukan teater ( masih revisi )


Judul :MERAH DAN PUTIH

I.                   PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Naskah ini sebelumnya saya bawakan pada tahun 2015 sebagai final mata kuliah dasar-dsar teater, saya memberi nama naskah ini dengan judul merah dan putih agar menyamarkan nama antara umat kristenisiasi dan islam, menyinggung masalah agama memang sangat sensitif sehingga adanya konflik saat ingin membawakan naskah ini. Saya mengangkat naskah teater realis ini karena ingin lebih memperdalam terlebih dahulu mengenai teater realis sebelum mempelajari teater non realis. Saya membumbui naskah ini dengan peristiwa percintaan ditengah tragedy yang sangat menegangkan, disinilah sisi kemanusiaan dari setiap tokoh akan dimainkan.
Naskah merah putih merupakan naskah yang  menceritakan tentang tragedi poso pada tahun 2000, pada masa itu peristiwa ini sangat membekas dikalangan masyarakat poso yang bermukim di wilayah tersebut, banyak masyarakat yang berpindah tempat namun adapula yang tetap mempertahankan wilayahnya tersebut,kota poso termaksud kota yang berpenghasilan sumber daya yang cukup subur, tanaman dan pohon karet yang menjadi salah satu sumber yang cukup mengjanjikan tersebut membuat kota poso menjadi kota incaran para pendatang, tidak semua yang bermukim di wilayah poso adalah penduduk asli poso, saya mendapatkan hasil cerita ini dari sumber terpercaya yaitu penduduk poso langsung yang saya wawancarai Pada masa tragedy poso tahun 2000 banyak para wanita nya yang menjadi janda karena di tinggal oleh suaminya untuk ikut berperang. Pada  masa peperangan berlangsung banyak rumah-rumah yang dibakar dan dihancurkan, tidak hanya itu mesjid dan gereja yang di jadikan sebagai tempat perlindungan juga ikut dihancurkan, lebih tragis lagi pada masa itu banyak wanita yang diperkosa dan dibunuh paksa walau dalam kedaan hamilpun,dan lebih parahnya pada masa itu banyak yang di bakar hidup-hidup dan disaksikan oleh masyarakat, kepala di penggal dari tubuhnya sehingga dinamakan kota ini sebagai kota mayat tanpa kepala.
Naskah ini memiliki 4 karakter, sesuatu hal yang coba saya ciptakan dalam naskah ini yaitu saya mencoba haidrkan peristiwa atau adenga Diana adanya seorang umat Kristiani yang jatuh cinta pada umat islam seperti yang saya jelaskan sebelumnya, dalam hal ini karakternya saya simbolkan sebagai merah yang jatuh cinta kepada putih, namanya Anthony dan hayati. Ia bertemu pada saat petang hari pada saat peperangan itu terjadi, Anthony menyelundup masuk kerumah hayati yang tinggal sendiri dirumahnya, ia adalah janda yang ditinggal oleh suaminya yang ikut berperang namun na-as suaminya meninggal pada saat bertempur dan ia mati jihad dijalan allah karena ingin melindungi mesjid yang ia tempati tersebut. Kalau diperhatikan, naskah ini terlalu mennceritakan tentang putih yang diserang oleh merah pada masa itu pada tanggal 22 mei 2000, alasan kuatnya yaitu merah ingin menjadikan kota poso sebagai pusat kristenisiasi di kota poso tersebut. Sebagai penengah agar naskah ini tidak terlalu berat sebelah, saya akan memainkan adegan di bagian percintaannya agar ada penjelasan bahwa merah dan putih sama beratnya. Tokoh Anthony pada naskah ini sebagai orang yang patuh pada sang atasan untuk menyerang dari tentena ke kota poso.
            Berdasarkan latar belakang diatas kami akan menyajikan naskah merah dan putih ini dengan menggambarkan karakter yang disorotkan lampu ke wajahnya dan bercerita tentang dirinya masing-masing pada awal pertunjukan dengan tema tragedy poso.






                                                                                   
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, masalah yang akan ditelusuri adalah bagaimana penggarapan dari Naskah  MERAH DAN PUTIH karya Putri Amelia dengan fokus pada beberapa hal berikut;
1.      Bagaiamana struktur  dalam pertunjukan Teater dalam naskah Merah dan Putih karya Putri Amelia produksi teater kampus
2.      Bagaimana tekstur dalam pertunjukan Teate dalam naskah Merah dan Putih karya Putri Amelia produksi teater kampus


C.    Tujuan Penelitian

1.      Mendiskripsikan konsep pertunjukan naskah merah dan putih oleh casting XXII TERKAM FSD UNM.
2.      Mendiskripsikan bentuk pertunjukan merah dan putih oleh casting XXII TERKAM FSD UNM.

D.    Manfaat Penulisan
Manfaat penulisan laporan ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang sebesar – besarnya, yaitu antara lain :
a.       Sebagai prasyarat dalam pencapaian nomor registrasi anggota (NRA) Teater Kampus FSD UNM.
b.      Sebagai media pelatihan keterampilan dalam menulis.
c.       Sebagai sarana pembelajaran dalam mengapresiasi pertunjukan teater dalam bentuk tulisan.


E.     Sisematika Penulisan

I.    PENDAHULUAN
A.                 Latar Belakang
B.                 Rumusan Masalah
C.                 Tujuan Penulisan
D.                 Manfaat Penulisan
E.                  Sistematika Penulisan

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR
A.                 Teater 
B.                 Teater Realis
C.                 Sutradara
D.                 Artistik
E.                  Seni Peran

Kerangka Pikir

III. KONSEP PENGGARAPAN NASKAH MERAH DAN PUTIH
A.                 Judul Naskah
B.                 Sinopsis Naskah
C.                 Sutradara
D.                 Aktor
E.                  Penata musik
F.                  Penata artistik
G.                 Penata kostum
H.                 Tema
I.                    Premis
J.                    Bentuk teater
K.                 Konsep penyutradaraan
L.                  Tokoh dan karakter
M.                Konsep tata pentas
N.                 Kostum dan rias
O.                 Konsep musik pengiring
P.                  Konsep lighthing/cahaya

DAFTAR PUSTAKA



  
II.                Tinjauan Pustaka Dan Kerangka Pikir
A.    Teater

Berdasarkan makna dan penggunaan kata teater tersebut, Cohen (1983)  menyebutkan bahwa teater adalah “wadah kerja artistic dengan actor menghidupkan tokoh, tidak di rekam tetapi  langsung dari naskah” .Defisi ini tidaklah baku bagi kata teater, tetapi hanya salah satu kemungkinan yang mampu dipikirkan tentang kriteria dalam pertunjukan teater. Apabila diperinci definisi teater tersebut,  maka akan terdapat 6 wilayah pengertian didalamnya :

1. Teater adalah kerja
2.  Teater adalah kerja seni
3. Teater adalah wadah actor menghidupkan tokoh.
4. Teater adalah pertunjukan
5. Teater adalah pertunjukan langsung
6. Teater terkait dengan naskah tulisan

B. Teater Realis

Semenjak tahun 1850-an yang dianggap sebagai masa realism awal, teater realis memiliki karakteristik sebagai berikut :
1.      Sesuatu tidak boleh diperindah atau diperburuk dari keadaan yang sebenarnya. Adanya persoalan yang amoral dan dekadensi moral di tengah masyarakat yang terungkap di permukaan justru menunjukkan kebenaran. Usaha untuk menutupinya justru menunjukkan sikap moral.
2.      Apabila pembaca atau penonton tidak menyetujui ungkapan itu, justru merekalah yang harus diperbaiki. Seniman bertanggung jawab untuk menyampaikannya ke permukaan tanpa berusaha menutupi kebenaran yang terjadi di sekitarnya.
3.      Visualisasi realisme menolak gagasan Theophile Gautier tentang I’art pour I’art karena visualisasi seharusnya digunakan untuk menunjukkan kepentingan masyarakat.
4.      Bentuk dramatik naskah menunjukkan bentuk well made play yang dikembangkan oleh Eugene scribe (1971-1861)

C.     Sutradara
Sutradara adalah seseorang yang mengkordinir segala unsur-unsur dengan paham, kecakapan, serta daya khayal yang inteligen sehingga mencapai suatu pertunjukan yang berhasil. Kemunculan seorang sutradara dan penyutradaraannya di kenal sebagai bukti konkret peristiwa social, politik, dan budaya yang berlansung.
Cohen (1983) mengatakan bahwa sebenarnya kerja penyutradaraan telah ada seiring dengan kemunculan teater, namun tidak ada seseorang yang di anggap sebagai sutradara seperti istilah yang sekarang kita miliki. Chone membuat beberapa kreteria tentang sutradara dan penyutradaraan berdasarkan kesejarahan penyutradaraan di antaranya

1. Sutradara Guru
Di awal kemunculan teater dan beberapa waktu sesudahnya, kerja penyutradaraan dianggap sebagai bentuk pengajaran atau pendidik.



2. Sutradara realisme
Menjelang akhir abad 19 muncul beberapa sutradara yang mempelajari kembali berbagai konvensi pertunjukan teater dengan usaha yang lebih keras dan dengan berbagai cara membuatnya Nampak lebih keseharian.
1.    Sutradara stilisasi
Tahap ini merupakan gabungan antara kerja penyutradaraan dengan penulisan nonrealis dalam rangka menghasilkan pementasan stilisasi modern.
2. Sutradara kontemporer
Renesans yang dilontarkan Craig merupakan “abad sutradara” di mana fungsi penyutradaraan dipandang dengan mapan sebagai sintesa antara teks, desain, dan acting yang menjadi peristiwa teatrikal yang unik dan indah.

D. Artistik

Tata Artistik berisi tentang teori dan praktek tata artistik yang meliputi;
1. Tata Rias
·         Pengertian Tata rias
Tata rias adalah seni menggunakan bahan – bahan kosmetik untuk mewujudkan wajah peranan. Terwujudnya wajah harus dipandang dari sudut manapun.
·         Fungsi Tata Rias
Fungsi rias ialah memberikan bantuan dengan jalan memberikan dandanan atau perubahan-perubahan pada para pemain hingga terbentuk dunia panggung dengan suasana yang kena dan wajar.
·           Kegunaa rias dalam seni teater
Ø  Merias tubuh manusia artinya mengubah yang alamiah ( nature ) menjadi yang budaya ( culture ) dengan prinsip mendapatkan daya guna yang tepat. Bedanya dengan beauty make-up ialah, beauty make-up mengubah yang jelek menjadi baik, sedangkan rias teater mengubah nature menjadi culture.
Ø  Mengatasi efek tata lampu yang kuat
Ø  Membuat wajah dan kepala sesuai dengan peranan yang dihendaki.
·         Jenis Tata Rias
Rias dapat dibedakan atas delapan macam :
Ø  Rias Jenis
Rias jenis dilakukan bila perias harus mengubah seorang laki – laki menjadi wanita atau sebaliknya.
Ø  Rias bangsa
Rias bangsa terjadi bila misalnya pemain bangsa Indonesia harus melakukan peranan sebagai seorang Inggris. Untuk ini diperlukan pengetahuan tentang berbagai sifat bangsa-bangsa, tipe dan wataknya, agar pemangguan bisa kena.
Ø  Rias Usia
Rias usia misalnya mengubah seorang pemuda menjadi kakek tua. Untuk itu diperlukan pengetahuan mengenai anatomi manusia dari berbagai umur.
Ø  Rias Tokoh
Rias Tokoh amat sukar dilaksanakan. Memang ada hubungan antara bentuk luar dan watak seseorang, tetapi pedoman itu sukar dipegang oleh seniman rias. Maka leih jelas kalau pengertian rias watak digabungkan dengan rias tokoh. Sebab di dalam masyarakat orang dapat membedakan antara tokoh pelacur dan took ibu yang salehm umpannya. Masing-masing jelas menunjukkan watak dan bentuk luar yang berlainan.
Ø  Rias watak
     Baca pada  rias tokoh
Ø  Rias Temporal
Rias temporal ialah merias menurut perbedaan-perbedaan karena waktu. Misalnya seorang bangunan tidur membutuhkan rias yang berbeda dengan orang yang akan pergi ke pesta dan sebagainya.
Ø  Rias aksen
Rias aksen hanya memberikan tekanan kepada pelaku    yang sudah mendekati peranan yang akan dimainkannya. Umpama nya seorang pemuda Jawa yang harus memainkan peranan pemuda Jawa hanya membutuhkan rias rekan.
Ø Rias Lokal
Rias local ialah rias yang ditentukan oleh empat. Umpamanya rias seorang narapidana di penjara akan berbeda dengan rias sesudah dia dilepaskan dari penjara.
2. Tata busana
Kostum pentas meliputi semua pakaian, sepatu, pakaian kepala, dan perlengkapan-perlengkapannya, baik itu semua kelihatan atau tidak oleh penonton. Biasanya produksi – produksi amatir memusatkan perhatian pada lapis luar kostum serta  mengabaikan kaki dan pakaian-pakaian dalam. “ Pakaian-pakaian itu tidak akan berpengaruh”, demikian kata mereka. Akan tetapi pernyataan itu bagi mrekea yang mahir dalam dunia teater tidak benar. Maka sekarang akan kita analisis macam-macaam bagian kostum pentas berdasarkan fungsi.
Agar kostum pentas mempunyai efek yang diinginkan, kostum pentasharus menunaikan beberapa fungsi tertentu :
·         Fungsi yang pertama dan paling penting ialah membantu menghidupkan perwatakn pelaku. Artinya, sebelum dia berdialog, kostum sudah menunjukkan siapa dia sesungguhnya, umurnya, kebangsaannya, status sosialnya, kepribadiannya, suka dan tidak sukanya. Bahkan kostum dapat menunjukkan hubungan psikologisnya dengan karakter-karakter yang lain.
·         Fungsi yang kedua untuk individualisasi peranan. Warna dan gaya kostum dapat membedakan seseorang peranan dari peranan yang lain dan dari setting serta latar belakang. Gaya suatu periode akan mempunyai karakteristik-karakteristik yang sama menimbulkan duplikasi dan menontoni, bukan individualisasi yang perlu bagi peranan.
·         Fungsi yang ketiga yaitu member fasilitas dan membantu gerak pelaku. Pelaku harus dapat melaksanankan laku atau stage business yang perlu bagi peranannya tanpa terintang oleh kostumnya. Kostum tidak hanya harus menjadi bantu bagi para pelaku, tetapi juga menambah efek visual gerak, menambah indah dan menyenangkan setiap posisi yang diambil pelaku setiap saat. Hal ini sebagian besar bergantung pada temperamen dan kerja sama antara pelaku dan perencana. Pelaku yang pandai dan cukup latihan biasanya dapat menguasai pakaian yang sulit pun jika pakaian itu membantu efek visual produksi seluruhnya. Akan tetapi, bila stage business meminta pelaku agar jungkir balik dan melakukan gerak-gerak  akrobatik lainnya yang sukar-sukar, maka kostum harus direncanakan hingga tidak merupakan rintangan.

3.      Tata Cahaya
Menerangi dan menyinari pentas dan actor, Menerangi adalah cara menggunakan lampu sekedar untuk member terang, melenyapkan gelap. Penggunaan lampu seperti ini disebut general illumination. Dengan general illumination itu seluruh pentas, benda-benda penting maupun yang tidak penting, diterangi secara merata. Para penonton itu perlu bisa melihat karena antara melihat dan mendengar itu ada korelasi, dan apa yamg tidak dilihat oleh penonton dirasa tidak didengar.
Menyinari adalah cara penggunaan lampu untuk membuat bagian-bagian pentas sesuai dengan keadaan dramatic lakon. Penggunaan lampu seperti ini disebut specific illumination. Dengan spisifik illumination ini perhatian dipusatkan pada suatu tempat di pentas, dan tempat-tempat lain menjadi kurang penting. Dengan penyinaraan ini efek dramatic dan pictorial bertambah.



4.      Tata Panggung
Tata panggung disebut juga dengan istilah scenery (tata dekorasi). Gambaran tempat kejadian lakon diwujudkan oleh tata panggung dalam pementasan. Tidak hanya sekedar dekorasi (hiasan) semata, tetapi segala tata letak perabot atau piranti yang akan digunakan oleh aktor disediakan oleh penata panggung. Penataan panggung disesuaikan dengan tuntutan cerita, kehendak artistik sutradara, dan panggung tempat pementasan dilaksanakan. Oleh karena itu, sebelum melaksanakan penataan panggung seorang penata panggung perlu mempelajari panggung pertunjukan.

·         Jenis-Jenis Panggung
Panggung adalah tempat berlangsungnya sebuah pertunjukan dimana interaksi antara kerja penulis lakon, sutradara, dan actor ditampilkan di hadapan penonton. Di atas panggung inilah semua laku lakon disajikan dengan maksud agar penonton menangkap maksud cerita yang ditampilkan. Untuk menyampaikan maksud tersebut pekerja teater mengolah dan menata panggung sedemikian rupa untuk mencapai maksud yang dinginkan. Seperti telah disebutkan di atas bahwa banyak sekali jenis panggung tetapi dewasa ini hanya tiga jenis panggung yang sering digunakan. Ketiganya adalah panggung proscenium, panggung thrust, dan panggung arena. Dengan memahami bentuk dari masingmasing panggung inilah, penata panggung dapat merancangkan karyanya berdasar lakon yang akan disajikan dengan baik.
o   Arena
Panggung arena adalah panggung yang penontonnya melingkar atau duduk mengelilingi panggung (Gb.274). Penonton sangat dekat sekali dengan pemain. Agar semua pemain dapat terlihat dari setiap sisi maka penggunaan set dekor berupa bangunan tertutup vertikal tidakdiperbolehkan karena dapat menghalangi pandangan penonton. Karena bentuknya yang dikelilingi oleh penonton, maka penata panggung dituntut kreativitasnya untuk mewujudkan set dekor. Segala perabot yang digunakan dalam panggung arena harus benar-benar dipertimbangkan dan dicermati secara hati-hati baik bentuk, ukuran, dan penempatannya. Semua ditata agar enak dipandang dari berbagai sisi. Panggung arena biasanya dibuat secara terbuka (tanpa atap) dan tertutup. Inti dari pangung arena baik terbuka atau tertutup adalah mendekatkan penonton dengan pemain. Kedekatan jarak ini membawa konsekuensi artistik tersendiri baik bagi pemain dan (terutama) tata panggung. Karena jaraknya yang dekat, detil perabot yang diletakkan di atas panggung harus benar-benar sempurna sebab jika tidak maka cacat sedikit saja akan nampak. Misalnya, di atas panggung diletakkan kursi dan meja berukir. Jika bentuk ukiran yang ditampilkan tidak Nampak sempurna - berbeda satu dengan yang lain - maka penonton akan dengan mudah melihatnya. Hal ini mempengaruhi nilai artistic pementasan.
o   Proscenium
Panggung proscenium bisa juga disebut sebagai panggung bingkai karena penonton menyaksikan aksi aktor dalam lakon melalui sebuah bingkai atau lengkung proscenium (proscenium arch). Bingkai yang dipasangi layar atau gorden inilah yang memisahkan wilayah acting npemain dengan penonton yang menyaksikan pertunjukan dari satu arah Dengan pemisahan ini maka pergantian tata panggung dapat dilakukan tanpa sepengetahuan penonton. Panggung proscenium sudah lama digunakan dalam dunia teater.Jarak yang sengaja diciptakan untuk memisahkan pemain dan penonton ini dapat digunakan untuk menyajikan cerita seperti apa adanya. Aktor dapat bermain dengan leluasa seolah-olah tidak ada penonton yang hadir melihatnya. Pemisahan ini dapat membantu efek artistik yang dinginkan terutama dalam gaya realisme yang menghendaki lakon seolah-olah benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata

o   Thrust
Panggung thrust seperti panggung proscenium tetapi dua per tiga bagian depannya menjorok ke arah penonton. Pada bagian depan yang menjorok ini penonton dapat duduk di sisi kanan dan kiri panggung Panggung thrust nampak seperti gabungan antara panggung  arena dan proscenium.
Dalam perancangan tata panggung selain mempertimbangkan jenis panggung yang akan digunakan ada beberapa elemen komposisi yang perlu diperhatikan. Sebelum menjelaskan semua itu, fungsi tata panggung perlu dibahas terlebih dahulu. Selain merencanakan gambar dekor, penata panggung juga bertanggungjawab terhadap segala perabot yang digunakan. Karena keseluruhan objek yang ada di atas panggung dan digunakan oleh aktor membentuk satu lukisan secara menyeluruh. Perabot dan piranti sangat penting dalam mencipta lukisan panggung, terutama pada panggung arena dimana lukisan dekor atau bentuk bangunan vertikal tertutup seperti dinding atau kamar (karena akan menghalangi pandangan sebagian penonton) tidak memungkinkan diletakkan di atas panggung. Tata perabot kemudian menjadi unsure pokok pada tata panggung arena. Unsur-unsur ini ditata sedemikian rupa sehingga bisa memberikan gambaran lengkap yang berfungsi untuk menjelaskan suasana dan semangat lakon, periode sejarah lakon, lokasi kejadian, status karakter peran, dan musim dalam tahun dimana lakon dilangsungkan.

 

III.             Konsep penggarapan

A.     Judul Naskah

MERAH DAN PUTIH Karya Putri Amelia

B.        Synopsis Naskah

Pada Tgl 22 Mei 2000 tepatnya di Kota Poso, terjadi tragedy pembantaian antara umat Kristen dan umat islam, yang dulu di kenal sebagai Merah dan  utih. Adanya propokator atau penyebar isyu-isyu yang tidak jelas oleh propokator ersebut sehingga terjadinya tragedy tersebut, merah membantai putih karena ingin mengambil seluruh lahan di kota poso yang berniat ingin menjadikannya pusat kristenisasi di Kota Poso .
Pada malam itu masyarakat Islam berjaga-jaga membuat pos-pos kewaspadaan untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Namun pada saat sang fajar mulai terbit, adzan subuhpun berkomandang tiba-tiba masyarakat Kristen masuk ke gerbang wilayah poso dan memusnahkan para umat islam, para sang lelaki wajib bertempur membentengi lahannya. Pada saat kejadiaan itu banyak yang tewas, dan banyak yang menjadi janda akhirnya karena pada tragedy itu banyak wanita yang dipaksa menggurkan kandungannya dan diperkosa.
Namun ada salah satu masyarakat merah yang jatuh hati pada janda masyarakat putih karena memiliki hati yang lembut, iklas, dan sabar .Setelah beberapa bulan kemudian tragedy tersebut telah usai, Salah satu masyarakat merah tersebut berniat melamar wanita tersebut, namun ada konflik yang terjadi sehingga wanita tersebut terkena imbasnya dan meninggali.

C.  Sutradara
Putri Amelia
D. Aktor
Wiwi Syam
Alfira Audhyati Tjenre
Alfian Junaid
Muhammad Adnan

E.     Penata Musik
Syamsul Bahri
Aan Al-mursalaat

F.   Penata Artistik
a.       Penata set/Property
Rahmat
b.      Penata Lighting
Imran


G.Penata Kostum
Resky kumala sari

H. Tema
Tragedi Poso tahun 2000

I. Bentuk Teater

Bentuk Teater Realis

J.    Premis

Perlu kita sadari bahwa tidak semua kota memiliki pendapat rasa aman yang sama tentang bagaimana kaumnya harus hidup di tengah masyarakat dan kota yang bersiteruh. Kesalahan pehaman yang terjadi antara masyarakat pada kota poso ini perlu di kaji letak permasalahannya.

K.    Konsep Penyutradaraan

Naskah realis ini menggunakan alur maju,cerita berkembang maju, Seperti  pada:



BABAK I
Di daerah perkampungan, sedang berlangsung aktifitas masyarakat di suatu pemukiman padat penduduk.


Dalam teater realis, hal yang menarik adalah realis adalah sesuatu yang nyata. Segala sesuatu yang sama dengan realita. Seni adalah ilmu pengetahuan. Aliran realis dalam seni, yakni ilmu yang mempelajari aliran, gaya dan bentuk yang menghasilkan pertunjukan seperti hal dalam realita kehidupan.


L.     Tokoh Dan Karakter

Hayati : seorang perempuan muda usia 24 tahun, ia seorang janda karena ditinggal meninggal oleh suaminya saat berperang. namun ia juga menggambarkan watak sabar dan cemas dan menghadapi keadaan kota nya.
Anthony : Seorang laki-laki berusia 27 tahun, ia seorang masyarakat biasa dari tentena yang beragama Kristen dan memiliki ambisi untuk menjadikan kota poso pusat kristenisasi. Namun ia juga memiliki karakter lembut terhadap seorang wanita dan ia juga patuh pada atasan.
Alifah : Seorang perempuan berusia 23 tahun, ia seorang masyarakat biasa yang sedang hamil. Namun ia memiliki karakter yang kritis dan berani.
Idris : Seorang laki-laki berusia 28 tahun, ia seorang masyarakat biasa yang memiliki karakter pemberani dan ambisius.


M.   Konsep Tata Pentas
NO
Adegan
Property/set
1
Disaat masyarakat muslim kota poso dan sekitarnya sedang melakukan rutinitas kesehariannya, tiba-tiba datang sang pemangku adat untuk memberika informasi agar berwaspada dan berjaga-jaga, mereka juga membuat pos-pos penjagaan membantu aparat setempat karerna ada nya isyu bahwa merah akan berkunjung ke wilayahnya.

Pakaian tahun 2000, Sapu yang dipakai, baskon untuk mencuci di pinggiran rumah, cangkul untuk menanam padi, dan pos – pos penjagaan.
2
Sekitar pk. 21.00 malam : Pemda Poso mengeluarkan pengumuman melalui mobil unit penerangan yang dikawal oleh mobil dinas camat Poso – Kota serta mobil patroli polisi. Mengumumkan kepada segenap masyarakat muslim kota Poso dan Sekitarya, bahwa berdasarkan laporan dari camat Pamona – Utara serta polsek  Pamona utara, tidak membenarkan ( membantah ) isyu adanya massa yang turun dari Tentena untuk menyerang warga Muslim di Kota Poso.

Pakaian tahun 2000, Parang yang digunakan untuk berjaga-jaga
3
Dalam embun yang dingin itu, dari bukit yang melingkari sebagian kota Poso, ayam – ayam hutan mulai berkokok merdu dan lantang membangunkan warga muslim disekitarnya untuk berwudhu dan menyembah Tuhan diwaktu subuh.
Terdengar suara kentongan  yang sengaja diketuk bertubi-tubi sebagai isyarat bahwa barisan sang angkara murka telah memasuki pintu gerbang kota Poso.
Warga muslim yang masih gelagapan bingung dan sedikit panik, dikarenakan ibadah tempur dan ibadah sholat datang pada waktu yang bersamaan.

Pakaian tahun 2000, Kentongan untuk mengingatkan berita tersebut. Dan mukenah pada saat mau beribadah subuh.
4
Umat Kristen menghancurkan rumah – rumah warga, membantai para masyarakat muslim, dan memperkosa wara wanita di poso. Namun tiba-tiba aparat merelai dan mengamankan  belah kubu sehingga sedikit meredahlah pertikaian namun tetap saling waspada dalam kecemasan dua belah kubuh umat islam dan kristen.

Pakaian tahun 2000, Parang  yang digunakan pada saat pembantaian.
5
Tiga bulan kemudian Nurhayati mendapati surat dari Anthony, dengan rasa kaget dan bingung iya membacanya, ternyata Anthony berniat berkunjung ke dusunnya. Namun kemudian diliat oleh saudara nya bernama Alifah, cekcokpun terjadi diantaranya.

Pakaian tahun 2000, Surat di simpan diatas meja, dan rumah .
6
Nurhayati yang didampingi oleh saudaranya bergegas menuju rumah pemangku adat.
Namun di tengan perjalana terdapat konflik sehingga hayati tewas terbunuh.

Pakaian tahun 2000, Selendang,  surat di atas meja. Dan balon yang diisi dengan sirup merah.


N.    Kostum Dan Rias

Konsep rias yang di gunakan dalam naskah “MERAH DAN PUTIH” Ini yakni menggunakan pakaian yang menggambarkan profesi dizaman tahun 2000, namun dengan rias sesuai dengan umurnya.

O.    Konsep Musik Pengiring

Dalam teater realis dalam naskah MERAH DAN PUTIH music penguat suasana yang digunakan pada awal suara efek keybord untuk memperkuat suasana perkampungan pada awal adegan.Suara suara malam di wakili string keybord dan berapa alat ilustrasi di gunakan untuk pengantar suasana ketegangan di malam yg gelap mewakili suasana cemas pada adegan pemda poso yang mengabarkan bahwa tentena akan menyerang ke kota poso. Assalamualaikum, mohon kepada para warga muslim kota poso dan sekitarnya karena adanya kabar bahwa tetangga sebelah akan kembali membuat rusuh didusun kita, untuk menjaga kemungkinan – kemungkinan yang akan terjadi mohon warga sekalian bersiap siaga membuat pos – pos penjagaan dan membantu para aparat menjaga keamanan kota dan para ibu serta perempuan marilah kita bersama anak – anak kita berlindung ke mesjid dalam upaya mencari perlindungan kepada Allah swt. Taklupa kita juga membawa sejadah dan Al-quran kita untuk beribadah ditempat yang suci tersebut.” Pada adegan 2 menjelaskan bahwa kabar yang di beritakan hanyalah isyu-isyu yang tidak benar, di kabarkan melalui unit patroli pemda poso. Music yang di pakai yaitu efek keybord memunculkan suara patroli. Pada adegan 3 Terdengar suara kentongan  yang sengaja diketuk bertubi-tubi sebagai isyarat bahwa barisan sang angkara murka telah memasuki pintu gerbang kota Poso. “Bunyi apa itu? Apakah tetangga sebelah akan berkunjung lagi ke sini ? Apakah kita akan ikut bertempur atau kita menjalankan ibadah subuh ini ? Sungguh terlalu mereka ! Tak kenal waktu dan adab! “ Musik semakin naik,  Warga muslim yang masih gelagapan bingung dan sedikit panik, dikarenakan ibadah tempur dan ibadah sholat datang pada waktu yang bersamaan.  Pada adegan 4 Umat Kristen menghancurkan rumah – rumah warga, membantai para masyarakat muslim, dan memperkosa wara wanita di poso. Namun tiba-tiba aparat merelai dan mengamankan  belah kubu sehingga sedikit meredahlah pertikaian namun tetap saling waspada dalam kecemasan dua belah kubuh umat islam dan Kristen. Music keyboard semakin tinggi dan menegangkan di berikan pula suara music gong.  Adegan 5 Tiga bulan kemudian Nurhayati mendapati surat dari Anthony, dengan rasa kaget dan bingung iya membacanya, ternyata Anthony berniat berkunjung ke dusunnya. Namun kemudian diliat oleh saudara nya bernama Alifah, cekcokpun terjadi diantaranya. Diberikan music hening dan suasana perkampungan, namun music naik pada dialog “Apa!( Membaca surat )Kau ini sungguh terlalu Hayati, kau ingin menemui orang – orang pembantai itu, tak ingatkah kau Hayatai? Siapa penyebab suami kau meninggal ?Mereka !Orang yang tak berhati dan biadab itu. “ pada adegan 6 terjadi klimaks dan ketegangan pada pertemuan Anthony dan Hayati yang sedang jatuh cinta, namun tiba-tiba hayati tertikam oleh salah satu masyarakat nya sendiri, dan suara alunan menyedihkan pada keyboard.

P.     Konsep Lighting

Lighthing yang akan digunakan pada pementasan ini berupa, spot dan hologen lamp. Lighthing di gunakan untuk mengisi suasana dalam panggung. Konsep lighthing untuk naskah ini yaitu :
a.              Saat suasana perkampungan yang damai dan aktifitas para penduduk, diberikan lighting putih.
b.             Pada saat suasan tegang dan pertempuran diberikan lighting merah.
c.              Lighting kembali berwarnah merah setelah hayati terbunuh.



DAFTAR PUSTAKA

A.    Sumber Tercetak
Harymadrwan, RMA. 1988.dramaturgI. Bandung :PT Remaja Rosdakarya
Dra. YudiaryaniI, M.A. 2002. Panggugteaterdunia. Jogjakarta : SiNERGI
Eko santoso,dkk.2008.Seniteaterutukperguruantengah..Jakarta: Departemen pndidikan Agama


B.     Sumber Tidak Tercetak

 (Di akses pada tanggal 17-08-2014)

 (Di akses pada tanggal 17-08-1014)
 (Di akses pada tanggal 17-08-1014)
(Di akses pada tanggal 17-08-1014)