Idris sedang duduk di atas kursi tua sambil merenungi sebuah
foto yang dipeluk didadanya, ia sedang mengingat kembali masa-masa yang terjadi
10tahun yang lalu, dengan wajah yang tampak sudah menua. Dan disorot lampu
berwarna kuning kemerahan. ( flashback memgingat )
Pada masa itu disebuah kota sebut
saja merah dan putih, peperangan berlangsung dikota Putih, tepatnya digerbang
perbatasan Kota Merah dan Putih. Pembunuhan terjadi dimana-mana, pemerkosaan,
pembakaran tempat ibadah dan rumah-rumah hancur pada masa itu.
Aminah
( Bangun dari
sebuah reruntuhan rumah, dan ketika bangun dia kesakitan dan ketakutan dengan
sekelilingnya )
Anthony
Tolong.. tolong.. tolong.. ( kesakitan, dan terengah-engah kemudian Mendekati Anthony dengan raut wajah cemas dan ketakutan)
Seketika itu aminah kemudian
merangkul antony dan mengantarnya menuju tempat aman
Anthony
siapa kau? (
sambil dirangkul oleh Aminah )
Aminah
Tidak usah
banyak bicara, sekarang keselamatanmu lebih
penting.
Ditengah
perjalanan aminah berhenti dan kaget memperhatikan kalung salib yang terpasang
dileher anthony
Anthony
Kenapa?
Aminah (KAGET) tidak ada apa-apa..!!
Aminah
Jika hati mengizinkan bibir untuk berkoar-koar dan menumpahkan sgala rasanya.
Tak ada yang bisa membendung air mata untuk mengalir disetiap detiknya.
Peperangan ini telah merenggut banyak jiwa, saudara, sahabat, termaksud
suamiku.
Anthony
suamimu?
Adegan 2
Tiga bulan kemudian, pada musim
kemarau. Aminah mendapati sebuah surat berada di depan pintu rumahnya. Ternyata
surat itu dari Anthony
Aminah
Dari Anthony untuk Aminah, selamat pagi
Aminah, ini saya Anthony.. lama tidak jumpa dan berbincang, dengan surat ini
sebenarnya saya memiliki niat berkunjung ke Kota mu. Ada hal penting yang ingin
saya bicarakan secara langsung. Saya ingin menemuimu. Mungkin sementara kau
membaca surat ini, saya sudah perjalanan menuju rumah mu.
Alifah
Apa itu?
Aminah
Tidak ada
apa-apa.
Alifah
lalu ? kenapa kau begitu takut? Aku tahu, semua orang juga tau.
Aminah
Jangan berburuk sangka dulu. Dengarkan penjelasanku dulu. Ini tidak seperti apa
yang kau lihat.
Alifah Apa?
( membaca surat ) Kau ini sungguh terlalu Aminah Menjalin
hubungan dengan
orang jahat itu? Tidak kah kau ingat? Siapa penyebab suamimu meninggal? siapa
penyebab dusun-dusun kita hancur? Dan siapa penyebab penyebab aku harus menjadi
single parents. Masyarakat merah itu.
Aminah Kita
hanya manusia biasa, jangan karena salah satu diantara mereka yang membuat onar
di dusun kita? Kau seolah-olah memandang mereka sama. Mereka sama seperti kita.
Alifah
Sama apa?
Aminah
Ya. Kita sama seperti mereka.
Manusia yang penuh dosa dan tidak luput dari kesalahan,
yang sudah biarlah berlalu, kita hanya manusia penuh dosa, peperangan ini tiada
henti nya, jika kau terus membiarkan amarah di dalam dirimu menjadi nene
moyang, tidak ada hentinya. Mungkin.. sudah saatnya kita mengiklaskan semua.. (
Menatap kedepan dengan raut yang berusaha tegar )
Alifah
Cuih tidak sudih, karena mereka anakku tidak akan memiliki ayah. Aku terpaksa
menjadi ibu dan sekaligus Ayah untuk anakku nanti. Suatu saat ..ketika anakku
besar. Dia akan bertanya kemana Ayahnya? Dan dia akan dipermalukan oleh
teman-temannya. Bagaimana caraku membesarkannya Aminah? Sungguh berat beban
yang ku pikul. Sedangkan kau malah ingin meladeni keparat itu!!
Aminah
Aku hanya tidak
ingin perdamaian hanya dalam mimpi, bila kebencian masih menggerogoti hati
kita.
Idris
Ada apa ini ! keributan ini terdengar sampai luar ! ( Menguping pembicaraan
dari luar)
Alifah
Maaf kami telah
membuat keributan
Idris
Ada apa kalian?
Alifah
Saya mendapati Aminah, yang sedang
membaca surat dari masyarakat merah, yang berniat untuk menemui Aminah.
Idris
Apa? Keterlaluan kau Hayati, apakah kau musuh di balik selimut? Mengapa kau
tega ingin bertemu dengan nya?
Aminah
Tidak ada niat
sedikitpun ingin membuat kota kita dalam keadaan bahaya, dia hanya ingin
berkunjung kesini untuk menemuiku, Bukankah itu hal yang baik? Apa lagi dia
memberitahu terlebih dahulu, tidak ada Nampak jahat dari niat nya itu.
Idris
Niat apa? Omong kosong! Ini hanya akal-akalannya saja, dia berpura-pura ingin
menemuimu, setelah kota ini lengah .. dari perbatasan akan ada yang menyerang
ke kota kita. Apakah kau tidak takut kau akan kehilangan saudara mu alifah? Dia
satu-satunya saudara yang kau miliki sekarang Aminah, kau terlalu egois untuk
keperntingan dirimu
Aminah
egois???
Idris
yah tentu saja!! Kau mendahulukan kepentinganmu untuk menemuinya.
Aminah Tidak,
saya hanya mencoba untuk membuat kota kita saling berdamai, bisa saja dia ke
sini karena ingin merundingkan atas kejadian kemarin, kita bisa saja saling
memaafkan dan menyelesaikan konflik ini .
Idris
Allaahh, persetan !!! kau ini.
.
Aminah
kau apa? Kau yang egois pak, kau ingin
peperangan ini terus berlangsungkan? Kau ingin membalaskan dendam-dendam
pribadimu itu.. karena keegoisanmu. Sehingga aku harus menjadi janda seperti
ini. Aku terpaksa menanggung malu karena keegoisanmu yang ingin berperang tiada
habisnya. Aku dan alifah yang menjadi korban dari perselisihan ini pak. !
Idris
apa kau bilang? Berani kau berbicara seperti itu? ( Ingin menampar Aminah )
Alifah Berhenti
!. Tidak ada gunanya berdebat dengan penuh amarah. Saya akan menemanimu Aminah
menuju rumah Ketua RW untuk membicarakan masalah ini.
Idris
Tidak perlu kemana-mana, ini hanya akan membuang-buang waktu saja. Kau mau saja
di bodohi dengan orang-orang keparat itu. Kau ini..
Aminah ya tuhan,, kenapa hatimu begitu
keras? Tidak adakah rasa belas kasihanmu terhadap mereka? Apa salahnya dia
ingin berkunjung kesini?
Idris awas saja kalau dia
berani kesini, akan kupenggal kepalanya.
Alifah
Jangan suudzon seperti itu pak. Awalnya aku juga ragu. Tapi apa yang dikatakan
aminah ada benarnya juga. Baik! Kau ikut denganku Alifah.
Adegan 3
Aminah yang didampingi oleh
saudaranya Alifah bergegas menuju rumah Ketua RW. Di tengah perjalanan ia
bertemu dengan Anthony. Namun selama perjalanan Idris ikut membuntuti
dibelakang mereka.
Alifah
Apakah kau yakin ingin menemuinya Aminah? Jika nanti, Ketua RW benar
mengizinkan Anthony berkunjung ke Kota kita, Tidak adakah rasa khawatir
dihatimu?
Aminah
Khawatir? Kenapa memangnya ?
Alifah
Saya takut dia berniat jahat denganmu Aminah, atau ternyata ini hanya strategi
masyarakat nya saja, dia membuat rencana seperti ini untuk membuat kita lengah.
Apakah kau tidak takut kau akan kenapa-kenapa Aminah?
Aminah
( Berkata sambil tersenyum ) Maut siapa yang bisa tau? Allah maha mengetahui,
Walaupun kita berlindung dimenarah kokoh sekalipun, namun .. kalau maut dating
menghampiri? Apa daya? Kita serahkan saja padanya.
Alifah
Baiklah Hayati, saya hanya mengkhawatirkanmu saja. Sebenarnya, saat ini saya
sangat cemat, takut, dan bingung. Saya sudah lelah dengan peperangan ini, apa
lagi dalam keadaan hamil seperti ini. Sangat tidak pantas saya dengan keadaan
hamil seperti ini berada di tengah konflik ini. Bayiku bisa kenapa-kenapa.
Padahal bayi ini yang menginatkanku pada Alm. Ayah nya. Ini adalah sebuah harta
bagiku.
Anthony
Aminah… Aminah.. Aminah.. ( Tiba-tiba dating dari balik gerbang )
Aminah
Kau?
Anthony
Hay Aminah
Aminah
Anthony? Ada apa ini?
Anthony
Bisakah kita bicara berdua? Bisakah saya kerumahmu? Ada hal penting yang ingin
saya bicarakan.
Aminah
Bicaralah sekarang.
Anthony
Tapi, siapa dia? Aku hanya ingin bicara berdua Aminah
Aminah
Dia Alifah, saudaraku. Bicaralah di hadapan kami. Saya tidak punya banyak waktu
Anthony. Jujur saja, saya sangat khawatir dengan kedatanganmu ini.
Alifah
Biarlah, silahkan bicara berdua. Saya akan menunggu di pos ronda itu
.
Aminah
Baiklah, tunggu disana Alifah
Anthony
Sebenarnya setelah kejadian itu, disaat kau menolongku.. sepulangnya dari
rumah, saya terus memikirkanmu. Saya khawatir kalau kita tidak akan bertemu
lagi. Namun hari ini kuberanikan diriku untuk menemuimu Aminah, pada saat itu
saya telah jatuh cinta kepadamu, wajah mu yang begitu cantik, jari-jemari mu
yang lembut menyentuh tanganku dan mengobati luka-lukaku dengan telaten, bahkan
tuturn katamu yang begitu indah membuat perasaanku menggebu-gebu ingin bertemu
lagi denganmu. Namun kita beda keyakinan, membuat perasaanku jadi tidak
menentu.
Aminah
lalu?
Anthony
sudah lama tak ku dengar kabarmu setelah perpisahan itu, dan entah kapan
terakhir kali aku menulis namamu di diaryku dan mengingatnya.
Aminah
Apa maksud dari pembicaraanmu?
Anthony
Kau tidak mengerti juga? Ahhh! Yakin? Kau tidak mengerti? Aku menyukaimu Aminah
dan aku berniat melamarmu.
Aminah
Kau melamarku ?
Anthony
iya, aku melamarmu. Maukah kau menjadi istriku? Aku tidak bisa memilih kapan
saya dilahirkan, dimana tempat saya dilahirkan, dan dimana tempat saya
dibesarkan. Tetapi saya bisa memilih.. dengan siapa saya akan hidup bersama.
Dan saya memilihmu Aminah.
Aminah
Saya belum bisa menjawab pinanganmu ini. Kau lihat saudara ku yang duduk
disana? Dia sedang termenung memikirkan kejadian yang sedang terjadi padanya,
kini dia harus membesarkan janin yang ada di perutnya itu. siapa yang akan
merawat anaknya nanti? suara adzan berkumandang, itu pertanda kewajibanku
harus dilaksanakan, aku akan berbincang dengan Tuhanku tentang hubungan ini.
Kita sama sama saling mendoakan, aku dengan kedua tanganku yang terbuka menyatu
dan kamu dengan kedua tanganmu yang mengepal menyatu. Aku mencintaimu krn Allah
dan kamu mencintaku karena Tuhanmu.
Anthony
Apa yang salah dengan perbedaan ini? Bukankah perbedaan bisa disatukan?
Percayalah.. Kami mencintaimu, kami hanya menyebut namamu dengan sebutan yang berbeda
Tuhan. Aminah? Trimalah pinanganku..
Aminah Menerima pinanganmu? Kita
berbeda agama Anthony, dimana tempat yang tepat menyakralkan kita kelak?
Digereja atau dimesjid? Di depan penghulu atau didepan pendeta? pernikahan
bukan berlandaskan hanya 2 orang kau dan aku. Keluarga ikut andil dalam
membangun kebahagiaan dalam rumah tangga. Kalau kamu berpikir yang
dibutuhkan dalam sebuah pernikahan hanya cinta saja,
maka kamu salah. Membangun sebuah bahtera rumah tangga tidak hanya didasari
hanya karena rasa cinta. Karena
hakikat menikah adalah menyatukan visi keluarga. Keluargaku begitupun
keluargamu
Idris
Berani sekali kau manusia ulung, sungguh berani kau melamar Aminah tanpa
berfikir dosa-dosamu pada kami? Karena masyarakatmu sehingga suamimu aminah
meninggal? Kaum mu telah merubuhkan tempat ibadah kami. Apakah kau tidak ingat
Anthony
dosa apa ? apa? Tidak ingatkah kau? Ketika masyarakatmu membunuh adikku?
kau membakar tempat ibadahku? Kau membakar kawan-kawanku
.
Idris
Allaahh, kau ini memutar balikkan fakta.. ini memang karena ulah mu dan kaummu
yang ingin merampas kota putih ini dan menjadikan sepenuhnya menjadi kota
merah. Kau ingin menguasai kota ini.
Anthony
Apa bukti dari perkataanmu itu? Jangan membuat dugaan sesukaanmu. Kau hanya
membuat cerita aneh-aneh. Karena mulutmu sehingga peperangan ini terjadi..
Idris
enak saja kau bicara.. sangat panjang lidah mu itu. Akan ku potong lidahmu itu.
Anthony
Berani kau? Akan ku penggal kepalamu itu dan akan kugantung badanmu diatas
gerbang itu, seperti yang kau lakukan padaku . kau menggantungku di gerbang
itu. Akan ku balas kau.
Aminah
Berhenti ! saya mohon berhenti!! Sungguh Allah akan murkah pada umatnya
yang saling mendeki dan mendendam ! yang lalu biarlah berlalu, jangan biarkan
pemerintah merasuki kita lagi, karena isu-isu tidak jelas yang beredar kita
kalut dan lupa diri.
Idris
Allaaahhh omong kosong. ( senjata tajam di todongkan ke perut Anthony, namun
aminah yang terkena )
Aminah
Tidak….!!
Alifah
Aminahhh…. Ya Allahh… Kalian berdua..
Anthony
mengapa kau melakukannya Aminah? Ini tidak adil, maafkan aku aminah, aku mencintamu.
Aminah
Iklaskan aku.. biarkan semua nya berakhir.
Idris
Maafkan saya Aminah, ini salahku.. maafkan aku. Aku menyesal. Bangun aminah
Aminah
Lupakan semua yang terjadi, iklakanlah
Adnan sedang
duduk di atas kursi tua sambil merenungi sebuah foto yang dipeluk didadanya, ia
sedang mengingat kembali masa-masa yang terjadi 10tahun yang lalu, dengan wajah
yang tampak sudah menua. Lalu dari arah belakang ada seorang anak yang
memanggil namanya dengan sebutan kakek,, kakek ayo kita sholat. Anthony dan
alifah mengikuti dari arah belakang untuk mengajak sang kakek beribadah. Lalu
dia ambillah sebuah foto yang ada di dada adnan. Dan digantungkannya ke dinding
bersama Anthony.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar